disco is back !!!!!!
hadir kini sebuah band pengusung aliran musik electric, nak apik namun tak berisik,
digarap dengan cantik, dinamik selaras dengan si pemusik namun tak eksentrik….
so’ atuh diliat videona
disco is back !!!!!!
hadir kini sebuah band pengusung aliran musik electric, nak apik namun tak berisik,
digarap dengan cantik, dinamik selaras dengan si pemusik namun tak eksentrik….
so’ atuh diliat videona

Sedulur Sikep atau lebih dikenal sebagai Wong Samin diketahui bermula dari Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarjo, Kabupaten Blora. Desa ini terletak kurang lebih 25 kilometer di sebelah utara Randublatung. Sebuah perkampungan yang terletak di tengah hutan jati. Menuju Klopoduwur, maka akan melintasi areal hutan jati yang termasuk wilayah kerja HPH (Hak Pemangku Hutan) Kabupaten Blora. Sepajang jalan nampak penduduk yang hidup selaras dengan alam. Di kanan-kiri jalan banyak tumpukan kayu bakar kering yang telah diikat dengan rapi menunggu untuk diangkut. Beberapa perempuan tampak mengumpulkan daun-daun jati untuk dijual ke pasar-pasar di seputar Blora. Sekali dua melintas sepeda-sepeda dengan membawa kayu bakar di belakangnya. Meskipun desa ini berada di tengah-tengah hutan, namun kondisi jalan mulus terawat. Desa tempat munculnya ajaran Samin ini terbilang cukup maju, listrik telah menerangi sejak tahun 1987. namun kesan tradisional tidak hilang semuanya. Beberapa rumah masih menggunakan penerangan lampu minyak dan berlantai tanah.
Continue reading ‘Eksistensi Wong Samin blora di Era Modern’

Tayuban, sebagai buah tradisi masyarakat Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Blora telah mengalami pasang-surut apresiasi. Awalnya adalah seni gambyong istana bernilai tinggi. Berkembang menjadi seni gambyong di luar istana, lantas terdegradasi menjadi seni rakyat berkualitas rendah, mesum, bertendensi prostitusi. Sampai tiba saatnya ditingkatkan menjadi kesenian tari pergaulan, namun belakangan terancam turun martabat lagi menjadi ajang ribut dan mabuk-mabukan.
Etimologi Tayuban
Continue reading ‘tayuban,sebuah karya seni dari blora yang mulai dilupakan’

Kawasan wisata Goa Terawang merupakan kompleks goa yang memiliki enam goa dalam satu kawasan, ini terbanyak di Jateng. Di dalam kawasan seluas 13 hektar itu terdapat satu goa induk, satu sendang, dan lima goa kecil lainnya. Goa ini merupakan satu-satunya goa yang di dalamnya terang di siang hari karena terkena sinar matahari. Di kompleks Wanawisata Goa Terawang terdapat kawasan arena bermain anak yang terletak 50 meter dari mulut Goa Terawang yang terasa sejuk karena dipayungi ratusan pohon jati besar.
Lokasi Goa Terawang
Lokasinya berjarak 32 kilometer arah barat Kota Blora atau 107 kilometer dari Kota Semarang.Untuk mencapai Goa Terawang sudah tersedia jalan desa yang mulus, dapat ditempuh dari Semarang-Purwodadi-Wirosari menuju ke Kunduran Kabupaten Blora. Tepat di pertigaan depan Puskesmas Kunduran, pengunjung bisa belok kiri melintasi jalan desa yang mulus sepanjang lebih kurang 8 kilometer. Kawasan wisata Goa Terawang berada persis di tepi jalan. Kalau dari Blora, pengunjung menuju ke arah pertigaan Pasar Ngawen, kemudian membelok ke kanan melintasi jalan menuju ke Japah, Padaan, Ngapus, hingga tiba di Todanan atau sekitar 10 kilometer.
Continue reading ‘goa terawang, si raja goa di jateng’

Blora, kabupatenku yang terletak paling timur Jateng ini, terbukti cukup jeli dalam menggarap sektor wisata. Sadar bahwa daerahnya lebih banyak dikepung hutan jati, maka Pemkab setempat tidak punya keinginan membangun kawasan wisata lain kecuali mengoptimalkan potensi hutan yang telah dimilikinya. Sejak kawasan hutan yang terbentang luas dimaksimalkan sebagai tempat wisata, Blora langsung merengkuh dua keuntungan sekaligus. Keuntungan pertama, berupa pemasukan retribusi yang terbukti mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Keuntungan kedua, berupa pengakuan dari masyarakat luar daerah, bahwa ternyata Blora tidak seburuk yang dikatakan orang. Kini, banyak wisatawan dalam negeri maupun manca negara merasa penasaran jika belum menyaksikan potensi wisata hutan di Blora. Beragam cerita yang berkembang mengatakan, apabila kita menelusuri kedalaman hutan di Blora, maka kita akan bisa mengintip keindahan “surga”. Salah satu sarana bagi wisatawan untuk dapat mengintip keindahan “surga” tadi antara lain dengan memanfaatkan Loko Tour. Loko Tour ini merupakan paket perjalanan wisata di Hutan Jati KPH Cepu, Blora, dengan rangkaian kereta api yang ditarik lokomotif tua buatan Berliner Maschinenbaun,Jerman, tahun 1928.
Continue reading ‘wisata loco, ditengah hutan pinus’

Asal Usul Nama Blora : menurut cerita rakyat Blora berasal dari kata BELOR yang berarti Lumpur, kemudian berkembang menjadi mbeloran yang akhirnya sampai sekarang lebih dikenal dengan nama BLORA. Secara etimologi Blora berasal dari kata WAI + LORAH. Wai berarti air, dan Lorah berarti jurang atau tanah rendah. Dalam bahasa Jawa sering terjadi pergantian atau pertukaran huruf W dengan huruf B, tanpa menyebabkan perubahan arti kata.Sehingga seiring dengan perkembangan zaman kata WAILORAH menjadi BAILORAH, dari BAILORAH menjadi BALORA dan kata BALORA akhirnya menjadi BLORA. Jadi nama BLORA berarti tanah rendah berair, ini dekat sekali dengan pengertian tanah berlumpur.
Continue reading ‘sejarah kota blora’

Risalah Kabupaten Blora
situs resmi
Kabupaten Blora, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Blora, sekitar 127 km sebelah timur Semarang. Berada di bagian timur Jawa Tengah, Kabupaten Blora berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur.Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati di utara, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur di sebelah timur, Kabupaten Ngawi Jawa Timur di selatan, serta Kabupaten Grobogan di barat.
Continue reading ‘all about kabupaten blora’

White Shoes & The Couples Company adalah sebuah band kecil yang sedikit dipengaruhi oleh semangat akustik para musisi classic jazz di tahun 30-an. Dengan classic strings arrangement yang dibubuhi sedikit retro disco, easy listening accoustic ballads & sedikit sentuhan nada dari keyboard mainan anak-anak keluaran akhir 70-an.
Continue reading ‘white shoes & the couples company,band indie penuh prestasi’

Kini hadir artis baru meramaikan scene musik Indonesia: stereomantic! Album perdananya, ‘stereomantic’ dirilis oleh Aksara Records bulan Desember ini dengan single pertama ‘Takut’.
Nama stereomantic berasal dari kata stereo dan romantic, yaitu musik yang stereo mengiringi lagu-lagu yang romantic. Duo Aroel (ex-gitaris Planetbumi – now jingle maker) dan Maria (ex-vokalis Klarinet) ini menampilkan warna musik pop yang dikemas secara elektronik. Beberapa orang mengkategorikan musik stereomantic sebagai ‘indie pop electronic’, ada juga ‘electro pop’, ada lagi ‘disco pop’, tapi benang merahnya satu: POP.
Bermula dari sekedar obrolan iseng seputar musik pada bulan April 2006, pada akhirnya Aroel dan Maria sepakat membentuk sebuah project bersama. Menyatukan dua isi kepala tentunya tidak mudah, tetapi ada satu hal yang bisa mempersatukan keduanya: “main musik mesti jujur dan harus memakai hati.”
Dipengaruhi oleh The Smith, Morrissey, St. Ettienne, The Cardigans, Carpenters, Pet Shop Boys, The Beatles, dll, stereomantic menampilkan 11 lagu di self-titled album yang akan beredar dalam format CD dan kaset.

Dunia abad 21. Kegalauan menghantui sebuah generasi. Jiwa – jiwa lelah digerogoti kebanalan kehidupan yang berkesan plastik artifisial. Semu. Musik tidak lagi menghibur, hanya dayuan pengumbar cinta yang kehilangan artinya. Semua musik? Tidak semua musik. Untuk tenggelam dalam kegundahan jiwa dan menikmatinya, datang sebuah penyelamat dari musik yang disuguhkan Efek Rumah Kaca.
Debut album yang diberi judul sama dengan nama band mereka ini, menyuarakan sebuah perasaan desperasi akan sekitar yang makin lama merontokkan keesensialan jiwa sebuah generasi. Album ini berkomunikasi dalam bahasa keputusasaan yang makin dihayati merubah perasaan tanpa harapan itu menjadi sebuah perasaan akan sesuatu memegahkan yang akan terjadi. Perasaan akan sebuah kemenangan tanpa harus menjadi sama dengan penghuni planet ini yang makin lama terperosok dalam dunia mayanya.
Continue reading ‘efek rumah kaca sebuah fenomena band di indonesia’
Recent Comments